Kisah Evan Dimas: Sepatu Pertama dari Jualan Sayur [1]
Posted: 25/10/2013 13:43
Evan Dimas (Foto: Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Liputan6.com, Jakarta : Nama Evan Dimas kini amat
tersohor. Sosok muda yang kalem itu sangat dikenal publik sepakbola
Indonesia. Kepopuleran itu datang bersama prestasinya yang mengagumkan.
Evan tak sendiri, kehebatannya di lapangan hijau tercipta berkat
dukungan seluruh tim yang tergabung dalam skuat Timnas U-19. Evan Dimas
dan armada Garuda Muda memang layak mendapatkan pujian.
----------
Publik sepakbola di Tanah Air kini
sudah mendapat idola baru: Evan Dimas. Kepopuleran Evan tidak diperoleh
secara instan, tapi dicapai lewat proses panjang, ketekunan berlatih,
pembelajaran yang terus menerus, dan kerja keras.
Jalan terjal
dan berliku rupanya memang harus dilalui Evan Dimas saat dirinya ingin
mewujudkan keinginannya menjadi pemain sepakbola. Evan menyadari,
orangtuanya hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan. Bahkan untuk
membeli sepasang sepatu sepakbola saja, ia harus bersabar menunggu
orangtuanya punya uang.
Pekerja Keras
Evan
Dimas berasal dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya, Condro Darmono
bekerja sebagai petugas keamanan. Sementara sang ibu, Ana kini lebih
banyak berada di rumah mengurusi rumah tangga dan karier Evan. Dulu, Ana
pernah bekerja serabutan urusan rumah tangga. Mereka tinggal di Desa
Ngemplak RT 3 RW 5, Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep, Surabaya
Barat, Jawa Timur.
Sebagai anak pertama, Evan terbiasa mengurusi
dan melindungi tiga adiknya. Dua adiknya masih duduk di bangku Sekolah
Dasar. Sementara si bungsu masih belum bersekolah.
Kondisi
pas-pasan keluarga Condro Darmono dan Ana tak menyurutkan semangat
mereka mendidik Evan dan ketiga adiknya. Mereka selalu mendukung setiap
langkah Evan untuk menggapai cita-cita putra tercintanya itu. Terutama
cita-cita ingin menjadi pemain sepakbola.

Ibunda
Evan masih ingat benar bagaimana pertama kali Evan meminta dibelikan
sepatu sepakbola. Ketika itu umur Evan masih 9 tahun. Permintaan Evan
untuk dibelikan sepatu bola sempat membuatnya kelimpungan dan memutar
otak lebih keras. Maklum, ketika itu dirinya hanya ibu rumahtangga biasa
dan sang suami berjualan sayuran keliling sebelum beralih profesi
menjadi petugas keamanan.
"Demi anak, kami akhirnya mengupayakan. Saya ke pasar dan membeli sepatu bola yang harganya Rp 20 ribu. Yang murah-murah saja
wis, asal Evan senang," kenang Ana ibunda Evan sambil mengingat masa lalu.
Sepatu
bola pertama Evan itu dibeli dari hasil jualan sayur sang ayah
berkeliling kampung. Walaupun murah, tapi Evan tak menolak pemberian
dari orangtuanya itu. Evan mengaku, ketika itu sebenarnya sepatu bola
baru itu ukurannya sedikit kebesaran ketika dipakai.
"Sepatu
sepakbola pertama saya mereknya Diadora, harganya Rp 20.000. Saya ingat
dulu sepatu saya terlalu besar sehingga harus saya masukkan kain agar
bisa pas. Umur sepatu itu tidak lama, kira-kira 3 minggu karena
sepatunya sangat murah sehingga cepat rusak,” ungkap pemuda kelahiran 13
Maret 1995 tersebut.
Diejek Saat Pinjam Motor
Cerita
masa lalu kadang memang indah untuk diingat, atau lucu bila dirunut
lagi peristiwanya. Tapi kadang juga membuat sedih. Namun kehidupan itu
bagai roda. Sekali tempo berada di atas, atau suatu waktu berada di
bawah. Ada duka, ada senang, dan kadan pula ada keharuan. Orangtua Evan
Dimas telah mengalami semuanya, pahit dan getir kehidupan. Sebagai anak,
Evan pun tumbuh berkembang dan menjadi kuat.
"Pernah ketika itu
saya mau latihan, ibu saya pinjam sepeda motor sama orang, lalu diledek,
'Makanya beli sepeda motor. Lalu ada orang kampung saya yang membela,
'Jangan begitu. Semua ingin beli sepeda motor kalau punya (uang),"
kenang Evan.

Perkataan
tersebut membuat Ana menangis dan Evan pun tidak tega melihat air
matanya ibunya. Ana juga kerap menangis setiap kali melihat teman-teman
Evan berangkat berlatih dengan mengendarai sepeda motor, namun kondisi
ekonomi keluarga tidak memungkinan untuk membeli sepeda motor. Evan pun
hanya bisa terdiam dan tidak bisa meminta dibelikan.
Lainnya,
terkadang, untuk membeli kaus kaki saja Evan sampai berpikir ulang
bagaimana cara meminta kepada Ana. Sang ibu bahkan sampai berpatungan
dengan saudara-saudaranya untuk membelikan Evan sepasang sepatu
sepakbola.
Pernah Merasa Iri
Lingkungan
sosial tempat Evan hidup amat heterogen. Di usia remajanya, Evan Dimas
kerap mengalami godaan yang memang sulit ditolak. Sekali waktu, kadang
Eva merasa iri ketika melihat teman-temannya bisa memakai sepatu baru.
"Terkadang
saya iri lihat orang-orang yang bisa membeli sepatu baru untuk anaknya.
Saya hanya berpikir kapan bisa membeli sepatu seperti itu, sedangkan
ibu hanya jadi pembantu dan kadang berjualan kacang keliling kampung,"
sambung Evan mengenang.
Kondisi yang serba terbatas itu justru
membuat Evan terpacu untuk lebih bersemangat dan menjadi lebih baik.
Evan mengaku, pertama kali menekuni sepakbola sejak kelas 4 SD. Ia
sempat menimba ilmu di SSB Sasana Bhakti (Sakti) bersama saudara
sepupunya, Feri Ariawan. Bakatnya semakin terasah, ketika bergabung
dengan SSB Mitra Surabaya pada 2007, saat itu Evan masih berusia 12
tahun.

Di
lapangan hijau, Evan berperan sebagai gelandang. Meski posturnya
mungil, daya jelajahnya sangat tinggi. Tak hanya itu, kaki kiri dan
kanannya juga 'hidup'. Evan juga dikenal sebagai gelandang yang memiliki
tenaga ekstra. Semangatnya seperti tak pernah habis untuk mengejar
kemenangan tim yang dibelanya. Hanya satu yang menjadi kelemahannya saat
ini, yakni kontrol emosi. Sebuah hal yang lumrah dimiliki seorang
pemain muda.
Sebenarnya, rengekan Evan yang ingin bermain bola
sudah terjadi sejak umur tiga tahun. Bahkan waktu itu, Evan minta masuk
sekolah sepakbola di Sekolah Sepakbola Sasana Bhakti Surabaya. Namun
keinginan itu sulit diwujudkan karena harus punya sepatu bola.